Skandal Dana BUMDes Taropo : Bantuan Petani Diduga Dipotong hingga 70 Persen

 

Dompu, mediaruangpublik.com – Dugaan penyelewengan anggaran bantuan petani hortikultura di Desa Taropo, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, semakin menguat. Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Taropo diduga memangkas bantuan yang sebelumnya dijanjikan sebesar Rp10 juta per petani, namun di lapangan sebagian penerima hanya memperoleh sekitar Rp3 juta.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, total anggaran bantuan petani cabai yang disiapkan mencapai sekitar Rp60 juta untuk 10 orang penerima. 

Namun realisasi di lapangan tidak sesuai dengan rencana awal. Bahkan, sejumlah petani yang diusulkan sebagai penerima bantuan mengaku tidak mendapatkan dana sama sekali.

Ketua Kelompok Petani Hortikultura Desa Taropo, Ahmad Ismail, mengungkapkan bahwa dalam kelompoknya awalnya diusulkan empat orang penerima bantuan, tetapi hanya tiga orang yang menerima, sementara dirinya tidak memperoleh bantuan tanpa penjelasan yang jelas.

“Anggota saya hanya menerima Rp3 juta per orang, padahal sebelumnya dijanjikan Rp10 juta. Saya sendiri sebagai ketua kelompok justru tidak menerima bantuan,” ujarnya.

Menurutnya, dana Rp3 juta tidak cukup untuk membiayai penanaman cabai karena hanya untuk pembelian bibit dan plastik mulsa saja sudah hampir habis. Kondisi tersebut membuat sebagian petani mengalami kesulitan modal hingga berdampak pada hasil panen yang tidak maksimal.

Ahmad juga mengaku pernah mempertanyakan langsung kepada Ketua BUMDes terkait bantuan tersebut. Saat itu ia hanya mendapat penjelasan bahwa kekurangan dana akan diganti melalui anggaran koperasi di waktu mendatang, namun hingga kini belum terealisasi.

Sejumlah warga menduga pemangkasan bantuan tersebut berkaitan dengan pengelolaan dana yang tidak sesuai peruntukan. Jika dugaan ini benar, maka selisih dana puluhan juta rupiah berpotensi menjadi indikasi penyalahgunaan anggaran yang merugikan petani kecil.

Sementara itu, Ketua BUMDes Desa Taropo, Hariyadin HS, ketika dimintai keterangan melalui pesan WhatsApp pribadinya tidak memberikan tanggapan. Pesan konfirmasi yang dikirim wartawan hanya terbaca (centang dua, red) tanpa balasan.

Hingga berita ini diturunkan pada Senin (9/2/2026), Hariyadin HS belum memberikan jawaban atau klarifikasi resmi terkait dugaan tersebut. [RP. 01]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.