Suka Duka Keluarga Merawat dan Memperlakukan ODGJ : Penuh Tantangan dan Butuh Kesabaran


Oleh : Firmansyah, S.Psi., M.Kes.
(Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak dan Remaja)

Memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa tentu menjadi tantangan tersendiri. Setiap keluarga memiliki pengalaman, suka duka, dan perjuangan yang berbeda dalam merawat serta mendampingi anggota keluarganya.

ODGJ merupakan individu yang mengalami gangguan pada aspek kejiwaan yang dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, maupun kehidupan sosialnya. Karena itu, dalam merawat dan memperlakukan ODGJ diperlukan pendekatan yang berbeda, penuh kesabaran, kepedulian, kasih sayang, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Kesabaran, kepedulian, dan kasih sayang harus menjadi kekuatan utama keluarga. Sikap tersebut tidak boleh mudah luntur, karena proses merawat ODGJ membutuhkan ketekunan dan dukungan yang berkelanjutan.

Tantangan Keluarga dalam Merawat ODGJ

Ada berbagai tantangan yang kerap dihadapi keluarga ketika merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.

Pertama, stigma dan rasa malu. Kekhawatiran menjadi bahan pembicaraan tetangga atau mendapat label negatif sebagai "keluarga orang gila" terkadang membuat keluarga menarik diri dari lingkungan sosial.

Kedua, kelelahan fisik dan mental. Menjaga anggota keluarga, menghadapi kondisi ketika gejala memburuk, serta mendampingi pengobatan secara rutin dapat menjadi beban yang melelahkan, terutama jika tanggung jawab tersebut hanya dipikul oleh satu atau dua orang.

Ketiga, persoalan ekonomi. Biaya pengobatan, obat-obatan, transportasi, dan kebutuhan lainnya dapat menjadi beban keluarga. Kondisi semakin berat apabila anggota keluarga yang dirawat membuat pengasuh harus mengurangi atau bahkan meninggalkan pekerjaannya.

Keempat, rasa takut dan khawatir. Ketika kondisi kejiwaan memburuk, keluarga dapat merasa khawatir terhadap keselamatan anggota keluarga maupun orang-orang di sekitarnya, termasuk kekhawatiran anggota keluarga pergi atau meninggalkan rumah tanpa pengawasan.

Kelima, konflik dalam keluarga. Perbedaan pandangan mengenai cara merawat dan memperlakukan ODGJ dapat menimbulkan konflik. Ada yang memilih pendekatan keras, sementara yang lain menginginkan pendekatan penuh kasih dan pendampingan.

Keenam, rasa putus asa. Pertanyaan seperti, "Kapan akan sembuh?" terkadang muncul berulang kali dan dapat membuat keluarga merasa lelah secara emosional.

Semua kondisi tersebut merupakan realitas yang mungkin dihadapi keluarga. Karena itu, keluarga juga membutuhkan dukungan, pemahaman, dan ruang untuk mendapatkan bantuan.

Hikmah dalam Merawat ODGJ

Di balik berbagai tantangan tersebut, ada pula hikmah yang dapat dipetik ketika keluarga mampu merawat dan memperlakukan anggota keluarganya dengan baik.

Ikatan keluarga dapat menjadi lebih kuat. Anggota keluarga belajar untuk saling membantu, lebih sabar, lebih berempati, dan belajar menerima kondisi yang dihadapi.

Belajar memahami kesehatan mental. Keluarga dapat memperoleh pengetahuan baru mengenai kesehatan mental, cara berkomunikasi dengan tenang, mengelola stres, serta memahami kondisi anggota keluarga yang sedang mengalami gangguan jiwa.

Menghargai momen-momen kecil. Ketika kondisi anggota keluarga membaik, dapat berkomunikasi, bercanda, berkumpul, atau mengingat berbagai momen keluarga, hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi kebahagiaan yang sangat berarti.

Menjadi inspirasi bagi keluarga lain. Ketika sebuah keluarga berani berbagi pengalaman, mereka dapat membantu keluarga lain yang mungkin mengalami kondisi serupa dan selama ini memilih diam karena malu atau takut terhadap stigma.

Tumbuhnya rasa syukur. Kehadiran anggota keluarga dengan gangguan jiwa juga dapat mengajarkan keluarga untuk lebih menghargai kesehatan, ketenangan, kedamaian, keharmonisan, serta kebersamaan.

Menjaga Kesehatan Mental Bersama

Dari berbagai pengalaman tersebut, kita dapat memahami bahwa menjaga kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama. Kesehatan mental yang baik penting bagi individu, keluarga, maupun masyarakat.

Ketika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, jangan jadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk mengucilkan, mempermalukan, atau memperlakukannya secara tidak manusiawi. Sebaliknya, mari memberikan dukungan, perhatian, dan pendampingan yang bijaksana.

Keluarga juga tidak harus menghadapi semuanya seorang diri. Ketika menghadapi kondisi yang sulit, mencari bantuan dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau pihak yang kompeten merupakan langkah yang penting.

Pada akhirnya, merawat ODGJ bukan hanya tentang menghadapi tantangan, tetapi juga tentang belajar menjadi manusia yang lebih sabar, peduli, empati, dan penuh kasih sayang.

Mari rawat dan perlakukan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa dengan baik, bijaksana, dan bermartabat. Karena mereka tetap bagian dari keluarga dan masyarakat yang memiliki hak untuk dihargai dan diperlakukan secara manusiawi.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.