Gerindra Dikepung Tekanan! Mahasiswa Desak Pemecatan Bupati Dompu, Skandal Moral Kian Mengguncang

 

Jakarta, Mediaruangpublik.com – Gelombang tekanan terhadap Bambang Firdaus kian membesar. Kesatuan Mahasiswa Dompu-Bima Jakarta kembali turun ke jalan, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor DPP Partai Gerindra, Kamis (09/04/2026).

Aksi lanjutan ini bukan sekadar simbolik. Massa datang dengan tuntutan tegas: copot dan pecat Bambang Firdaus dari keanggotaan partai, menyusul dugaan skandal perselingkuhan yang mencoreng nama publik sejak awal Maret lalu.

Koordinator lapangan, Andi Zurhum, menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk “alarm moral” bagi partai berlambang kepala garuda tersebut. Menurutnya, sikap diam partai hanya akan memperburuk krisis kepercayaan publik.

“Kami tidak ingin partai terkesan membiarkan persoalan serius ini. Ini soal integritas dan moralitas publik,” ujar Andi, seperti dikutip dari Beritabaru.com.

Kasus yang menyeret nama Bambang Firdaus disebut telah mengguncang opini publik, tak hanya di NTB tetapi juga secara nasional. Posisi Bambang sebagai Ketua DPC Gerindra Dompu sekaligus kepala daerah periode 2025–2030 membuat isu ini semakin sensitif.

Alih-alih memberikan klarifikasi terbuka, Bambang justru mengambil langkah hukum dengan melaporkan sejumlah akun media sosial menggunakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atas tuduhan pencemaran nama baik.

Tak hanya itu, sikap mangkir juga ditunjukkan di internal partai. Dua kali panggilan klarifikasi dari DPD Gerindra NTB tak digubris. Kondisi ini membuat Nauvar Furqony Farinduan membawa persoalan tersebut ke tingkat pusat pada 7 April lalu.

Mahasiswa menilai, kasus ini telah menjadi ujian serius bagi Partai Gerindra dalam menjaga disiplin kader.

Mereka mendesak agar DPP segera mengambil langkah konkret melalui forum resmi partai. Jika terbukti bersalah, pemecatan dinilai sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kredibilitas partai.

Lebih jauh, massa juga menyinggung nama Prabowo Subianto sebagai simbol kedisiplinan dan ketegasan yang selama ini dijaga dalam tubuh Gerindra.

“Jangan sampai marwah partai runtuh hanya karena satu kader. Ini soal nama besar yang dipertaruhkan,” teriak massa.

Andi memastikan, gelombang aksi tidak akan berhenti sampai ada keputusan tegas dari DPP. Bahkan, mereka siap mengerahkan massa lebih besar jika tuntutan terus diabaikan.

Meski berlangsung panas dan penuh tekanan, aksi tetap berjalan tertib di bawah pengawalan aparat keamanan, namun pesan yang disampaikan jelas, publik menunggu ketegasan, bukan pembiaran. [*/TM]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.