"NGGUSU WARU" Mendambakan Pemimpin Impian dari Perspektif Seorang Pemimpi
Oleh : Suryadin, S.Pd.I., S.H (Gugel)
Dahulu, Kesultanan Dompu berdiri di atas sistem monarki absolut, sebuah tatanan di mana Raja atau Sultan memegang kendali penuh atas seluruh sendi kekuasaan.
Suksesi kepemimpinan berjalan melalui garis darah, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kekuasaan adalah hak istimewa, bukan pilihan.
Namun di tengah kuatnya tradisi itu, lahirlah sebuah kearifan lokal yang melampaui zamannya "NGGUSU WARU". Ia bukan sekadar konsep, melainkan konsensus luhur yang menjadi penyeimbang kekuasaan.
Mekanismenya diatur melalui peran Majelis Syara’, Hadat, dan Hukum yang terdiri dari para Rato dan Qadhi/Ulama sebagai representasi nilai adat, agama dan norma hukum, meski tetap berada dalam bingkai kendali Sultan.
Sebagai sebuah “local genius”, NGGUSU WARU tidak hanya berbicara tentang siapa yang berhak memimpin, tetapi lebih dalam siapa yang layak memimpin.
Seorang calon “dumu dou” atau “ama rasa” (Pemimpin) dituntut menjadi “hawo ro ninu” pengayom yang hadir bukan untuk dilayani, tetapi untuk melindungi dan membimbing.
Ia harus menjelma sebagai “saninu dodo ‘ba dou ma mboto”, cermin hidup bagi masyarakatnya teladan yang tidak hanya fasih dalam kata, tetapi nyata dalam laku.
Delapan prinsip dalam NGGUSU WARU bukan sekadar syarat administratif, melainkan fondasi moral dan spiritual. Ia menjaga marwah Kesultanan Dompu sekaligus memastikan bahwa kekuasaan digunakan untuk memenuhi hajat hidup rakyat.
Lebih dari itu, ia adalah refleksi dari karakter dan kepribadian Dou Dompu yang menempatkan amanah sebagai inti dari kepemimpinan.
Dalam konteks yang lebih luas, nilai ini sejalan dengan konsep ideal dalam ajaran Islam yakni "Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur" sebuah negeri yang baik, makmur dan penuh keberkahan, karena manusia dan alamnya dijaga dengan nilai kebaikan, serta dihiasi rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Pertanyaannya kini, masihkah nilai-nilai luhur itu relevan di tengah zaman yang cenderung apatis, pragmatis, dan serba instan?
Jawabannya mungkin tidak sederhana. Namun satu hal yang pasti ketika standar kepemimpinan diturunkan, maka harapan pun ikut meredup. Sebaliknya, ketika nilai seperti NGGUSU WARU tetap dijaga, ia bisa menjadi kompas moral di tengah kabut zaman.
Maka, menjadi pemimpi bukanlah kelemahan. Ia adalah awal dari harapan. Dan selama harapan itu masih ada, optimisme tak akan pernah padam. [*]

Komentar