Skandal BOS SDN 22 Woja : Bendahara “Hanya Nama”, Kepsek Diduga Kabur Lewat Jendela

 

Dompu, Mediaruangpublik.com - Skandal dugaan pengelolaan Dana Operasional Sekolah (BOS) di SDN 22 Woja kini bukan lagi sekadar isu biasa. Ini mulai menyerupai potret buram bagaimana uang negara diduga dikelola secara tertutup, tanpa kontrol dan seolah menjadi “milik pribadi”.

Sejumlah guru yang memilih bungkam soal identitas mengungkap fakta yang mencengangkan, tidak pernah ada rapat perencanaan, tidak ada transparansi anggaran, dan tidak ada pelibatan dewan guru dalam penggunaan dana BOS. Semua berjalan dalam “ruang gelap” yang hanya diketahui segelintir orang.

Lebih parah lagi, posisi Bendahara Dana BOS yang seharusnya menjadi penjaga utama akuntabilitas keuangan justru diduga hanya dijadikan stempel hidup. Fungsi kontrol nyaris nihil.

Pengakuan blak-blakan datang dari Bendahara Dana BOS, Rosnaini. “Saya hanya formalitas. Tidak tahu berapa jumlah dana BOS. Tidak dilibatkan dalam belanja. Saya hanya tanda tangan SPJ,” ungkapnya, membuka tabir yang selama ini tertutup rapat.

Pernyataan ini ibarat alarm keras—bagaimana mungkin uang negara dikelola tanpa sepengetahuan bendahara resmi? Ini bukan sekadar kelalaian administratif, tapi berpotensi menjadi pintu masuk dugaan pelanggaran serius.

Dampaknya mulai terasa. Jumlah siswa di SDN 22 Woja dikabarkan terus merosot. Kepercayaan publik melemah. Ada apa sebenarnya di balik pengelolaan Sekolah ini?

Namun yang paling mengejutkan terjadi saat upaya konfirmasi dilakukan kepada Kepala SDN 22 Woja, Rosniati, S.Pd. Alih-alih memberikan klarifikasi, ia justru menunjukkan sikap yang dinilai tidak wajar.

Dengan dalih ingin menelpon anaknya, ia meminta waktu. Tapi bukannya kembali, ia justru diduga “menghilang” dengan cara yang tak lazim, melompat keluar melalui jendela kelas 1 yang berbatasan langsung dengan rumahnya.

Aksi ini memicu spekulasi liar, menghindar, panik atau takut membuka fakta?

Publik kini bertanya keras, apa yang sebenarnya disembunyikan? Jika tidak ada yang salah, mengapa harus lari?

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Dompu. Dana BOS yang seharusnya menjadi penopang kualitas Pendidikan justru terindikasi dikelola tanpa transparansi.

Jika benar adanya, maka ini bukan sekadar persoalan internal Sekolah. Ini adalah soal integritas, soal tanggung jawab terhadap uang rakyat dan soal masa depan anak-anak yang haknya bisa saja terabaikan.

Kini bola ada di tangan pihak berwenang. Akankah dugaan ini diusut tuntas? Atau justru dibiarkan menjadi “rahasia umum” yang perlahan dilupakan?

Satu hal yang tak bisa ditutup-tutupi, ketika Bendahara tak tahu uang, guru tak tahu anggaran dan Kepala Sekolah memilih kabur. Maka yang hilang bukan hanya transparansi, tapi juga kepercayaan. [RP. 01]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.