Irama Ilahi Mengalun, Malam Kedua MTQ Dompu Dipenuhi Getaran Emosional

 

Dompu, Mediaruangpublik.com — Malam kedua pelaksanaan MTQ ke-XXXI Kabupaten Dompu 2026, berubah menjadi lautan rasa haru dan kekaguman. Di bawah langit Woja yang mulai diselimuti dingin malam, ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema, menghangatkan hati setiap jiwa yang hadir.

Dari sudut halaman Masjid Raya Kelurahan Kandai Dua, suara demi suara para Qari dan Qoriah mengalir seperti alunan yang menenangkan. 

Tak sekadar lomba, panggung ini menjelma menjadi ruang spiritual, tempat di mana kecintaan terhadap Al-Qur’an dipertontonkan dengan penuh penghayatan.

Setiap kali lantunan merdu terdengar, penonton seakan tak mampu menahan rasa takjub. Seruan lirih “Allaaaahh” pecah berulang kali, bukan sekadar teriakan, melainkan luapan rasa yang lahir dari kedalaman hati.

Semakin malam, suasana justru kian hidup. Dingin yang menggigit tak lagi terasa. Ratusan pasang mata terpaku ke panggung, tenggelam dalam setiap ayat yang dilantunkan. Satu per satu peserta tampil, membawa karakter, warna suara, dan penghayatan yang berbeda, namun dengan satu tujuan yakni memuliakan Kalam Ilahi.

Pantauan di lokasi menunjukkan betapa ketatnya persaingan. Para peserta tak hanya berlomba pada keindahan suara, tetapi juga ketepatan tajwid, kekuatan nafas, hingga penguasaan irama yang menyentuh relung jiwa.

Sosok Muhammad Lutfi, peserta asal Desa Nanga Miro, Kecamatan Pekat, menjadi salah satu yang mencuri perhatian malam itu. Dengan tenang, ia memulai lantunannya menggunakan irama Jiharkah bernada rendah, lalu perlahan naik menyentuh nada tinggi dalam irama Bayati. 

Transisi yang halus itu membuat suasana seketika hening, sebelum akhirnya kembali pecah oleh decak kagum para penonton.

Tak kalah memukau, peserta dengan nomor TQ 308 tampil dengan penuh percaya diri. Membaca Surat Luqman ayat 20, ia mengawali dengan Bayati yang lembut, lalu mengalir ke Nahawan dengan kekuatan vokal yang menggetarkan. Setiap lengkungan nada terasa hidup, seakan ayat-ayat itu berbicara langsung kepada hati para pendengar.

Riuh penonton kali ini lebih kuat, lebih emosional. Bahkan di antara mereka, terlihat Kabag Kesra Setda Dompu, Susatio, tak mampu menyembunyikan kekagumannya. Sesekali ia ikut berseru bersama penonton, lalu kembali terdiam, larut dalam kekhusyukan.

Deretan pejabat daerah pun tampak hadir, mulai dari Camat Woja sebagai tuan rumah, Camat Pajo, hingga Camat Hu’u. Mereka duduk di tengah masyarakat, tanpa sekat, sama-sama menikmati keindahan lantunan ayat suci yang menggema di malam itu.

Sebagaimana pernah disampaikan Bupati Dompu, Bambang Firdaus, MTQ bukan sekadar seremoni. Ia adalah panggung lahirnya generasi Qurani—mereka yang tak hanya indah dalam suara, tetapi juga kokoh dalam menjaga nilai-nilai Al-Qur’an.

Dan malam itu, pesan tersebut terasa nyata. Di atas panggung sederhana itu, bukan hanya suara yang diuji. Tetapi juga keteguhan, konsistensi, dan keikhlasan dalam melantunkan firman-Nya dari awal hingga akhir.

MTQ Dompu tahun ini bukan hanya tentang siapa yang terbaik. Melainkan tentang bagaimana setiap ayat mampu menyentuh hati dan meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan. [*]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.